Search
  • Dr Lee Chin Li

Batu Empedu, published Dec 2021

Updated: Apr 22

Kantong Empedu:

Photo courtesy of Lee Surgery and Endoscopy

Kantong empedu adalah organ tubuh berbentuk kantong menyerupai buah pir, terletak di bawah hati pada bagian kanan abdomen atas. Kantong empedu terhubung dengan pembuluh kompleks yang menghubungkan hati dengan usus. Fungsinya adalah untuk menyimpan cairan empedu yang dihasilkan oleh hati. Cairan empedu ini terkonsentrasi dan dikeluarkan ke saluran empedu menuju usus. Hal ini terjadi setelah proses makan makanan berlemak dan cairan empedu membantu mencerna lemak atau makanan berminyak.

Batu Empedu:

Photo courtesy of Lee Surgery and Endoscopy

Batu empedu adalah deposit yang mengkristal di kantong empedu. Terdapat 3 jenis berbeda dari batu empedu: pigmen, kolesterol dan campuran. Batu empedu yang paling umum adalah batu kolesterol. Tidak diketahui mengapa batu empedu dapat terbentuk. Menurut pakar kesehatan, kemungkinan adalah tidak seimbangnya beberapa komponen dan faktor dalam cairan empedu. Beberapa faktor risiko telah teridentifikasi dan termasuk di dalamnya: obesitas, berat badan turun dengan cepat, kurangnya aktifitas fisik, makanan (makanan berlemak dan kolesterol tinggi), diabetes, faktor keturunan dan penyakit seperti kelainan darah, penyakit Chron dan sirosis hati. Pada beberapa etnis seperti etnis Indian Amerika dan Hispanik menunjukkan risiko yang lebih tinggi menderita batu empedu. Perubahan pola makan berminyak mungkin tidak dapat mencegah pembentukan batu empedu, tapi dapat mengurangi serangan gejala penyakit tersebut.

Gejala:

Batu empedu merupakan penyakit umum dengan penderita sekitar 20% dari populasi. 90% dari pasien dengan batu empedu tidak memiliki gejala, dan pasien-pasien tersebut tidak memerlukan perawatan. Namun pada pasien dengan gejala, biasanya akan merasa gangguan pencernaan atau kembung dengan rasa tidak nyaman pada abdomen bagian atas atau tengah (biliary colic). Rasa tidak nyaman dapat menjalar ke bagian belakang punggung atas, pada bawah tulang selangka dan hal ini mungkin terjadi setelah menyantap makanan berminyak. Risiko terjadinya gejala pada pasien tanpa gejala mencapai 2-4% tiap tahun.

Gejala lebih parah juga dapat terjadi pada penderita. Komplikasi yang timbul tergantung pada letak batu empedu tersebut. Jika batu empedu terbentuk pada leher saluran empedu, infeksi amat mungkin terjadi (acute cholecystitis). Gejala termasuk rasa amat sakit dan terus menerus pada abdomen kanan atas disertai dengan demam. Jika gejala tersebut terjadi, maka pasien memerlukan antibiotik dan prosedur operasi untuk mengangkat kantung empedu.

Jika batu atau pasir mengalir ke dalam saluran empedu, pasien akan mengalami penyakit kuning, infeksi saluran empedu (cholangitis) atau pankreatitis batu empedu. Infeksi batu empedu dan radang pada pankreas dapat membahayakan nyawa yang mencapai 20% dari kasus penderita. Pada tahap infeksi, pasien akan merasakan sakit parah di bagian atas kanan atau bagian tengah abdomen disertai dengan demam, muntah dan penyakit kuning. Disarankan untuk segera menemui spesialis. Beberapa tes akan dilakukan dan pengobatan termasuk pemberian cairan, antibiotik dan endoskopi sebelum prosedur bedah dilakukan untuk mengangkat kantung empedu.

Jika pasien memiliki gejala, ada baiknya berkonsultasi dengan spesialis bedah Hepatobiliary dan Pankreas, dengan informasi gejala dan pemeriksaan, disertai dengan tes untuk memperoleh diagnosa akurat. Tes darah komplit dan tes fungsi hati dapat membantu dokter untuk memperoleh diagnosa dari komplikasi batu empedu. Ultrasound adalah tes pencitraan yang umumnya disarankan untuk mengidentifikasi batu empedu dan infeksi kantung empedu. Terkadang pencitraan Computed Tomography (CT) or Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada bagian abdomen juga disarankan untuk memastikan diagnosa infesi saluran empedu dan pankreatitis batu empedu.

Pasien yang tidak memiliki gejala tidak perlu menjalani pengobatan kecuali jika riwayat kesehatan menunjukkan adanya kelainan darah seperti Anemia sel sabit (sickle cell anemia: kelainan genetik yang menyebabkan bentuk sel darah merah menjadi tidak normal) atau pasien yang pernah menjalani prosedur bedah bariatrik. Pada kasus dimana pasien memiliki kondisi kelainan seperti polip dan pengerasan kantung empedu, dokter akan menyarankan pembedahan meskipun pasien tidak menunjukkan gejala. Hal ini dikarenakan dengan kondisi tersebut, risiko kanker kantung empedu akan meningkat. Pada kondisi pengerasan kantung empedu, risiko terkena kanker akan meningkat hingga 30-50%.

Pembedahan:

Pasien dengan biliary colic atau acute cholecystitis/radang kantung empedu disarankan untuk menjalani pembedahan untuk mengangkat kantung empedu jika perlu. Oleh karena itu dengan identifikasi dan pengobatan awal saat pasien baru saja menunjukkan gejala akan dapat mencegah komplikasi ke tingkat yang lebih parah, bahkan membahayakan nyawa.

Pilihan prosedur bedah dapat berupa prosedur lubang kunci (laparoscopic) untuk mengangkat kantung dan batu empedu. Pada prosedur tersebut, ahli bedah akan membuat 3-4 sayatan sepanjang 0.5-1.5 cm. Karena ukurannya yang kecil, bekas sayatan tidak akan terlihat setelah sembuh. Tingkat kesuskesan prosedur ini adalah 98%. Namun karena terletak dekat dengan saluran pencernaan dan saluran empedu, maka tingkat risiko luka pada organ-organ tersebut sekitar 1% dan 0.3%. Secara keseluruhan prosedur laparoskopi cholecystectomy relatif aman dengan tingkat risiko rendah. Prosedur ini dapat dilakukan sebagai prosedur rawat jalan atau pasien dapat menginap 1 malam di rumah sakit guna observasi, sehingga menjadi salah satu prosedur biasa di bagian bedah umum.

Metode Pengobatan Lain:

(i) Konsumsi Obat (Ursodeoxycholic acid)

Ahli bedah kemungkinan dapat menyarankan untuk mengkonsumsi ursodeoxycholic acid untuk menghancurkan batu empedu. Efektifitas pengobatan ini akan memakan beberapa waktu dan memiliki > 50% kemungkinan batu empedu akan muncul kembali. Hanya sekitar 25% pasien yang mengalami perbaikan gejala.

(ii) Prosedur Lithotripsy untuk mengatasi batu empedu menggunakan gelombang kejut ultrasonik untuk menghancurkan batu empedu. Metode ini tidak begitu biasa dan umumnya hanya berhasil pada sedikit pasien. Konsumsi obat dan prosedur Lithotripsy bukan diperuntukkan bagi pasien yang layak untuk menjalani operasi, karena risiko kekambuhan yang tinggi dan perbaikan gejala jangka panjang yang rendah

Hidup tanpa Kantung Empedu:

Cholecystectomy merupakan prosedur umum dan manusia bisa bertahan tanpa kantung empedu. Cairan empedu yang diproduksi oleh hati akan mengalir ke usus kecil dari hati lewat saluran empedu, ketimbang disimpan di kantung empedu. Persentase kecil dari pasien yang melakukan prosedur ini mengalami lebih sering buang air besar. Hal ini karena cairan empedu langsung masuk ke usus kecil, namun hal ini biasanya hanya sementara sampai tubuh menyesuaikan dengan kondisi tanpa batu empedu.

Profil Dokter:

Dr. Lee adalah salah satu lulusan Royal College of Surgeons di Irlandia dan mengikuti pelatihan bedah dasar dan lanjutan di Singapura. Beliau memperoleh Keanggotaan Royal College of Surgeons dari Royal College of Surgeons di Irlandia dan Magister Kedokteran (Bedah) dari National University Singapore, sebelum diakreditasi sebagai spesialis setelah memperoleh Fellowship dari Royal College of Surgeons of Edinburgh

Dr. Lee adalah pendiri Divisi Hepatobiliary & Pancreatic Surgery dan Konsultan Bedah Umum, Kampus Juronghealth, National University Health System (NUHS). Beliau berperan penting dalam membangun unit dari awal hingga menjadi unit empat konsultan yang menyediakan layanan bedah umum dan kompleks Hepato-Pankreas-Bilier yang komprehensif. Beliau juga pernah menjadi Konsultan Tamu di National University Hospital (NUH).

Keahlian Dr. Lee termasuk operasi 'lubang kunci' (laparoskopi) kanker hati, pankreas dan saluran empedu dan operasi pankreas dan hati yang kompleks. Selain melakukan operasi kompleks, ruang lingkup praktik Dr. Lee meliputi benjolan/abses kulit, wasir, prosedur bedah umum laparoskopi sederhana dan kompleks, endoskopi, bedah hernia, dan bedah gastrointestinal. Dr. Lee sering mengunjungi pusat kesehatan ternama dalam bedah Laparoskopi dan Hepato-Pankreas & Biliar (HPB) di Taiwan, Korea dan Jepang untuk terus mengikuti perkembangan terkini dalam bidang bedah dan untuk bertukar pikiran dengan para ahli terkenal.

Dr. Lee adalah anggota International Hepatopancreatobiliary Association (IHPBA) dan anggota seumur hidup dari Hepatopancreatobiliary Association of Singapore (HPBAS). Beliau juga seorang dosen di Yong Loo Lin School of Medicine, National University Singapore (NUS) dan penguji tetap dalam ujian MBBS. Beliau aktif dalam memberikan ceramah secara lokal dan regional tentang pendidikan kedokteran dan keperawatan. Atas usahanya di bidang pendidikan, beliau dianugerahi JurongHealth Excellence in Teaching Award 2015/2016 dan Penghargaan Tutor Terbaik oleh Yong Loo Lin School of Medicine, National University Singapore.

Beliau juga kerap memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada mahasiswa dan residen, sekaligus melatih residen senior dan konsultan junior dalam operasi laparoskopi dan operasi HPB yang kompleks. Beliau sering diundang untuk mengajar di lokakarya lokal dan regional untuk mahasiswa. Beliau juga pernah menjabat di berbagai komite peningkatan kualitas & audit dan kelompok kerja di kampus Juronghealth, NUHS. Sebagai pemimpin klinis untuk proyek Value Driven Outcome (VDO) 'laparoskopi kolesistektomi', Dr. Lee ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan, Singapura (MOH) sebagai anggota dari 'Laparoscopic Cholecystectomy Clinician Workgroup'.


Check out the article download here.


2022 - Harmoni - Asiamedic - Batu Empedu
.pdf
Download PDF • 817KB

1 view0 comments

Recent Posts

See All